The Five Points Mustahil untuk melebih-lebihkan betapa terkenalnya lingkungan Manhattan bagian bawah yang disebut Five Points sepanjang tahun 1800-an. Dikatakan sebagai sarang anggota geng dan penjahat dari semua jenis, dan secara luas dikenal, dan ditakuti, sebagai kandang geng flamboyan imigran Irlandia. Reputasi Five Points begitu luas sehingga ketika penulis terkenal Charles Dickens mengunjungi New York dalam perjalanan pertamanya ke Amerika pada tahun 1842, penulis sejarah London ingin melihatnya sendiri. Hampir 20 tahun kemudian, Abraham Lincoln mengunjungi Five Points selama kunjungan ke New York ketika dia sedang mempertimbangkan untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Lincoln menghabiskan waktu di sekolah Minggu yang dijalankan oleh para reformis yang mencoba mengubah lingkungan dan cerita tentang kunjungannya muncul di surat kabar beberap...
CALON itu urusan istriku, dia akan membuatkanya untukmu, bukan sambal tomat tapi sambal kelapa parut yang di goreng tanpa minyak dibungkus daun pisang seperti pepes. Sungguh indahnya untuk lidah yang berliur karena ruap aroma gurih kelapa dan daun pisang dan daun jeruk purut dan harumnya bawang putih dan tajamnya cabe-cabe. “Disamping rumahmu saja, dekat pohon sawo kecik.” Jawab mas Sorjan ketika Selo mengusulkan tempatnya adalah dekat kandang kambing. “YA, itu bisa sebagai hidangan pembuka, saat Selo mengatakan sambil mengangkat tandan pisang, dipanggang hingga kulitnya hangus akan benar-benar gurih.” Aku jatuh cinta pada Karsita Dia sudah tidak perawan Aku tidak perduli Dia frustasi oleh ketidakperawananya Aku tidak perduli ...
Namanya adalah Lasi. world war II effect. Seorang lelaki bermain perang perangan. Lasi hanyalah secuil cerita masa lalu di Jawadwipa . Ketika sifat laki-laki mendominasi masyarakat , akibat buruknya adalah jatuhnya sifat perempuan. apakah Lasi adalah potret ketidak adilan? ya. tapi dia juga sekaligus potret sifat kemanjaan yang disitulah sumber kebodohan. burukah kemanjaan? selalu buruk ? tidak . sebap sifat ini adalah sering menjadi pelopor terlahirnya perubahan besar. jadi bisa dibilang, dari perut perempuanlah ilmu tentang revolusi itu bermula his name is Lasi. world war II effect. a man plays a war of battles . Lasi is just a piece of the past story in jawadwipa. When the nature of men dominates society, the bad result is the fall of the nature of women. Is Lasi a portrait of injustice? yes. but he is also at the same time a portrait of the nature of indulgence which is the source of ignorance. bad indulgence? always bad? not . as often as this trait is often a precursor...
Komentar
Posting Komentar